Dec 31, 2007

Lotus

Lotuses are perhaps the most spectacular plants in aquatic environments. The Chinese say that, once having seen the growing lotus, you never forget it. The lotus flowers have color from red, pink, pale yellow to creamy white. A separate, long, tubular stalk supports each flower and each large round leaf.

The sacred Lotus, Nelumbo nucifera, is an extreme important spiritual symbol in Eastern religions. It represents purity, divine wisdom, and the individual’s progress from the lowest to the highest state of consciousness.

Seeded in muddy waters, the lotus rises above the mud and produces beautiful and fragrant flowers. The big showy bloom may be 8-12 inches (20-30 cm) in diameter. The flowers open for just three days. Then each petal falls silently into the water, one by one, at a short period. The large green seed head or pod remains on the top of the stalk for a long time, and gradually turning to dark color and ripe. The seeds impeded in the cone-shape pod with flat surface at the top. The pod then reverts to the water, where it floats face down, allowing seeds to take hold in the mud. The seeds then germinate in the following Spring and give rise to new lotus plants. All parts of lotus are edible. The immature seeds can be eaten raw or cooked, they have chestnut like flavor. Ripe seeds are roasted and ground into flour, or boiled to extract oil. Lotus roots produce starchy tubers and have the flavor of sweet potato. The young, unrolled leaves are cooked as a vegetable.

Lotus seeds have very hard, impermeable seed coats, and can remain viable for very long time. Sacred Lotus seeds, the most long-lived of all angiosperm seeds, have been known to germinate after more than 400 years! American Lotus (Nelumbo lutea) can germinate after a dormancy of 200 years, and recently, lotus seeds of 1,200 years from China had been germinated! What's an incredible plant! http://www.flowerpictures.net

Dec 6, 2007

memaknai kehilangan

Subuh, sekitar pukul 4 pagi datang berita bahwa ayah dari teman adik saya meninggal. Meninggal. Rasanya sedih ya, rasanya kita juga dapat berempati akan kehilangan itu. Dan seolah-olah saya dapat melihat sebuah film lama yang diputar kembali.

Gambaran kematian ayah terasa menari-nari di depan mataku. saya merasa dipusingkan sang waktu yang membawa saya kembali ke sekian tahun yang lalu. Saya dapat melihat diri saya sendiri berlari-lari di tengah hujan lebat berpetir, tanpa saya tahu keberanian seperti itu diperoleh dari mana. Berlari seperti kesurupan, padahal tidak tahu ada apa. Dalam kendaraan, saya hanya bisa berdoa ”Ya Tuhan, jangan biarkan jalanan ini macet”. Dan seperti ada kekuatan ajaib, jalanan sungguh lancar sampai di dekat rumah (padahal itu adalah kawasan yang selalu macet, terutama pada jam pulang kerja). Saya kembali berlari dan sekali lagi dengan doa terucap ”Ya Tuhan, jangan biarkan ayah saya pergi...saya hanya ingin bicara dengannya”...

Kalau diteruskan cerita di atas, tidak akan selesai. Karena rasa sakit apabila diingat-ingat akan terasa lebih sakit. Sebetulnya apa yang kita tahu tentang meninggal, wafat, mati? Bagaimana kita harus memaknai kematian itu sendiri. Sesuatu keadaan yang menyedihkan bagi mereka yang terdekat karena harus kehilangan seseorang yang bisa jadi sangat berarti. Yang bisa jadi telah mengisi hari-harinya dengan kehadiran orang yang meninggal tersebut.

Kehilangan, seolah-olah kita berbicara masalah kepemilikan. Kita kehilangan rasa. Kita kehilangan sesuatu yang (pernah) kita miliki, sesuatu yang dalam keinginan kita seharusnya selalu ada di tempat yang kita mau. Ketika kita kehilangan seseorang atau sesuatu, di bawah sadar kita menyadari bahwa ada ketidakseimbangan dalam diri kita yang disebabkan kehilangan itu. Suatu kenyamanan yang digoyahkan. Ketidakseimbangan itulah yang menimbulkan rasa sedih, sakit, merasa tergoncang. Ketidaknyamanan itu ditimbulkan oleh suatu pandangan bahwa yang kita miliki telah hilang – tidak akan kembali, diikuti dengan kecemasan bahwa segalanya akan berubah di luar kendali kita. Di luar keinginan kita.

Memaknai kehilangan berarti memberikan kita suatu momentum dalam kehidupan bahwasanya sang waktu yang sebelumnya seolah-olah berjalan diam-diam tidak terlihat, menjadi terlihat berdiri di depan mata. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa sang waktu selalu ada, meskipun tidak terlihat atau tidak dapat dirasakan, hal ini sesungguhnya menggaris bawahi keberadaannya.

Dengan jelas terlihat dalam suatu peristiwa kematian, bahwa kita tidak pernah dapat memperkirakan seberapa banyak waktu yang ada pada kita, seberapa lama kita diizinkan untuk mempergunakan waktu. Dan kapan waktu akan diminta kembali dari kita. Satu hal yang diperoleh dalam memaknai kematian, bahwa kita bukanlah pemilik waktu, kita hanya dipinjamkan. Bahwasanya ada yang berkuasa atas waktu, yang jelas bukan diri kita sendiri. Sudah seharusnya kita merawat dan menjaga apa yang dipinjamkan kepada kita dengan sebaik-baiknya.

(subuh menjelang matahari terbit)

keluarga...

Aneh keluarga itu .. sumpah rasanya aku bisa melihat sebagian persamaan keluarga hewan pada diri mereka. Kurang ajar! Ini sungguhan bukan kurang ajar. Sekarang coba kita bahas satu persatu, oke mulai :

Pertama, yang membedakan manusia dengan hewan adalah segi intelegensianya. Keluarga itu jelas teramat sangat idiot! Sang nenek selalu mengeluarkan suara-suara sumbang yang amat datar dan membosankan (mendengar nada datar yang berkepanjangan selalu berhasil membuat perut ini mual!) yang dia pikir dapat menghibur sang cucu (yang selalu disebutnya si ganteng! Wah..). sang nenek inipun sungguh teramat sering menggunakan suatu alat yang saya tidak tahu tepatnya apa...maklum hanya mendengar, yang bersuara seperti ini..crek kecrek kecrek....terus menerus. Nonstop! Lalu Sang tante yang juga memiliki suara 89,9% mirip suara ibu sang bayi selalu memanggil-manggil sang keponakan pertamanya ini dengan suaranya yang luar biasa sengau dan lagi-lagi membosankan. Oh ya sang kakek, dia satu-satunya yang lumayan agak pendiam (tentu saja dibandingkan dengan mereka) punya kesenangan tiada tara dengan menggendong sambil berkata..aduh pintarnya...

Jangan lupa kedua orang tua sang bayi, sang ibu hampir mirip dengan adik perempuannya namun dalam tingkatan yang jauh melebihi adiknya (coba bayangkan!), bagaimana dengan sang ayah? Sang ayah yang selalu batuk-batuk kecil entah memang selalu sakit batuk atau kebetulan saja batuk ketika ada orang lain melintas, terutama cewek kece, atau siapa aja yang berbeda dari dia. Dan anehnya dia memiliki suara tertawa yang berbanding lurus dengan suara datar sang ibu mertua ... suara tertawa yang datar!

Ke dua, manusia dapat mengontrol hawa nafsunya sedangkan hewan justru berjalan seiring dengan instingnya. Demikian juga dengan mereka. Mereka luar biasa, mengapa luar biasa? Karena suara-suara khas mereka yang berpadu dalam suatu paduan suara yang selaras berkesinambungan tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu tetap diudarakan, mulai subuh sampai pagi – jeda sarapan kali ya – siang – sore menjelang malam – malam sampai mereka menuju ke peraduan (sebagian info diperoleh pada hari libur).

Ke tiga, manusia mengenal etika pergaulan di mana sopan santun dalam bersosialisasi sangatlah utama sebagaimana manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang beradab, dan kalau diperhatikan dengan seksama ternyata hewan juga memiliki sopan santun serta tata tertib pergaulan di kalangan mereka sendiri. Nah berarti keluarga itu termasuk golongan apa dong? ......

Ke empat, tiga saja sudah bikin pusing. Bagaimana mau diteruskan?

Ke lima, tolong jangan ditiru! apanya? kelakuan mereka... termasuk sumpah serapah ini!

Days gone by [slaughter]

It's so good to see you now It's been so long since we've been together You kept in touch somehow You always found a way to be there [ CHORUS ] I wish that I could stop thehands of time between us All the days gone by Do you remember when we were the best of friends All the days gone by You know that memories never fade As you're watchin' all your days go by Lookin' back on younger years That's what our hopes and dreams are made of All the laughter and the tears It's the feeling of love that makes us [ CHORUS ] All of the feelings that we had before But through the years, oh those were the times Ooh yeah, alright The memories we share You can't erase them from your mind Those were days gone by You know that memories never fade As you're watchin' all your days go by They go by, they go by, they go by, they go by You know that memories never fade As you're watchin' all your days go by

berhajatan ria

(Ini kisah di bulan Februari tanggal 12, 2007, dini hari sekali)

Dear P,

Saya masih belum dapat terlelap, mengerikan, padahal sudah pagi sekitar pukul lima dan saya harus mulai bersiap untuk pergi hari ini. Kamu tahu ketika etnis tertentu mempunyai hajat?

Ya benar sekali! Mereka akan pesta sekian hari sekian malam plus orkes dangdut ria, … terbayang kan bagaimana hebohnya, dan itulah yang terjadi hari ini, tepatnya sejak kemarin malam.

Pada dasarnya saya memang bukan orang yang mudah ataupun cepat tertidur. Saya selalu tidur (sangat) larut malam. Ketika malam larut datang maka suasana yang hadir sangatlah hening, menenangkan. Terutama bila berada di depan komputer.

Namun bayangkanlah jika ketenangan itu diganggu oleh hebohnya musik dangdut … yang sumpah mati membuat semua imajinasi saya bubar jalan. Lengkap sudah tubuh yang mulai memohon untuk istrahat hanya dapat memohon, mata yang mendadak lemah pun tidak dapat segera menutup karena telinga ini terganggu polusi suara yang tidak kenal waktu. Sampai sekarangpun saya masih belum dapat terlelap.

Dan sungguh musik yang indah bagi yang mempunyai hajat dengan sukses sekali lagi terdengar ceria di pagi ... yang (2jam yang lalu) seharusnya masih buta dan masih milik empunya badan yang terlelap.

Tolongggggg……sudah pagi pukul 5.43 wib!!!

Dec 4, 2007

chu hsi

Last year when we parted the flowers were blooming. Today I see the same flowers blooming again. The events of the world are becoming more and more vague and unpredictable. The sorrows of spring have so darkened my spirit that I only want to sleep. (Chu Hsi)